Thursday, November 29, 2012

Biar katro yang penting indonesia


   Diara, murid kelas 8F yang benar-benar sombong, setiap baju yang dikenakannya adalah baju bermerek ala negeri barat. baginya itu hal yang biasa karena semua teman disekolahnya menggunakan pakaian yang bermerek sama sepertinya.
  "Hei, baju baru nih! merek apa?" tanya selvi, teman sebayanya.
hari ini Diara menggunakan celana jeans dan kemeja plus sepatu kats. "Oh ini? iya sih baju baru, tapi aku gak beli diluar negeri. soalnya di Indonesia kan sudah ada. Mereknya? ya jelas 'ninety degrees' lah!masa kamu gak tau sih?" jawab Diara.
     "Wah kece dong kalo gitu.. hehe..."
 Diara hanya mengangguk.
     Oh ya, hari ini itu hari Jumat, setiap hari Jumat, seluruh siswa-siswi SMP De Loyer wajib mengenakan pakaian bebas, tapi terserah sih mau pakai baju apa, yang penting rapi dan sopan.
      Di tengah kesibukan kelas 8F soal mode, tiba-tiba miss Alina datang bersama seorang anak remaja asing yang mengenakan dress dengan motif batik dan sepatu sandal yang bermotif batik juga.
        "Siapa dia? Ndeso banget!" bisik Diara kepada Selvi, yang saat itu sedang melamun.
    Krik...... Lama tidak ada jawaban, Diara langsung berkata "Katcyang"
baru Selvi menoleh kearahnya, "Ha?ada apa?" tanya Selvi kebingungan.
    "Kamu ini loh! Aku ajak ngomong nggak dihiraukan, malah bengong dan aku di kacangin. kamu itu kenapa sih?" sergah Diara.
    "kamu itu nggak tau ta? aku loh dari tadi ngeliatin anak yang super ndeso itu masuk kelas kita? apa kata dunia coba? gak pantes banget kan? iuh,,, deh gue liatnya!" jawab Selvi.
    "Ealah,,, brarti kamu sehati dong dengan apa yang aku pikirin?"
 Selvi mengangguk.
    "Oke anak-anak bisa kalian diam sebentar, kita punya murid baru pindahan dari  Bandung." sahut miss Alina ditengah keramaian kelas.
      "Ha???? yang bener aja miss? Dia anak Bandung? Kok jadul kayak gitu? masuk kelas kita pula? APA KATA DUNIA, miss?" sahut Reido, salah satu teman Diara.
    "Bener tuh miss....." jawab semua anak dikelas, termasuk Diara.
   “Hei! Kalian ini! Nggak sopan tau bicara seperti itu” sahut miss Alina dengan nada marah, lalu melanjutkan bicara kepada murid baru tadi, "Lupakan ocehan mereka. Silahkan kamu perkenalkan diri" ujar miss Alina kepada murid baru tersebut.
    Murid baru itu hanya mengangguk.
"Hai teman-teman! kenalin nama saya Dea, saya pindahan dari Bandung. saya harap kalian mau menerima saya sebagai teman kalian disini. terimakasih" jelas Dea.
   "Ada suara............" Reido menyahurinya lagi.
  Tiba-tiba miss Alina marah kepada Reido karena omongannya.
"Reido! ikut saya keruang Bk.!"
  Loh kok aku seh??? pikir Reido dalam hati.
Diruang BK reido diinterogasi oleh miss Alina. Setelah itu, miss Alina menulis nama Reido di daftar kenakalan siswa. Oh,ya..... disekolah ini itu, setiap bapak dan ibu guru pasti dipanggil MISS atau MR. Karena sekolah ini bertaraf internasional.
 Bel tanda istirahat telah berbunyi. Semua murid yang ada di kelas berhamburan keluar menuju kantin. Eh, tunggu dulu, ada satu anak yang tetap menetap dikelasnya, yaitu Dea si murid baru. Dea lebih senang menetap dikelas dengan menyantap menu buatan ibunya yang super lezat itu daripada harus pergi ke kantin, karena males ngantrinya.
"Um,,,, menu hari ini apa ya?" gumam Dea seraya membuka kotak makannya.
Melihat isinya yang ternyata menu hari ini adalah rendang kesukaannya, yummy. pikirnya.
    Ditengah ia melahap makanannya, Diara with the gank datang kekelas 8F. "Well, well, well.... anak kampungan itu ngapain coba menetap dikelas sambil makan, makanan apaan itu?? iuh banget deh....kampungan!!!!!" ejek Diara.
    Dea melihat makanannya, lalu membalas "Um,,,, ini makanan enak kok. khas indonesia lagi"
   "Ha??? enak?? yang enak tuh ini loh, hamburger spesial ala negeri Paman Sam" sahut Diara.
   "Huuu.... rendang ini nggak kalah enak tau!!!"
 "Huh"
    "Hhaha" Dea tertawa kecil setelah Diara mengatakan ‘Huh’ lalu pergi bergabung dengan ganknya yang lain setelah menghina Dea.
Tak lama kemudian Reido datang dengan terburu-buru. Sambil berkata, "hei, guys.... sapa yang beli hamburger di kantin sekolah tadi???" tanya Reido kepada anak-anak yang ada di kelas saat istirahat, dengan napas yang tersengal-sengal.
   "Kenapa emangnya?? nggak enak???" jawab Diara.
   Dea yang tidak membeli humburger tersebut tetap melahap rendangnya yang hampir habis tersebut dengan memutar-mutar kepala dan mengunyah makanannya. Teman yang lainnya juga begitu, tapi padahal mereka juga membeli hamburger yang sama di kantin sekolah.
    "Mmmmm....... ter....nya....ta......" omongannya terhenti ketika Diara memotong ucapannya itu. "Udah deh cepetan... gak usah lama-lama.... bikin penasaran aja......" cetus Diara.
"Ya bentar dong ah,,,, napasku masih belum teratur loh ,,,, huh resek..." sahut Reido.
  Lalu ia melanjutkan, "tenyata, hamburger yang ada di kantin itu beefnya basi. dan bu kantinnya baru tau, waktu ada anak yang mual setelah makan hamburger tersebut"
Hamburger yang dipegang anak-anak dikelas terjatuh sia-sia dengan sendirinya. Lalu mereka bengong melihat Reido. Sedangkan Dea berhenti memakan makanannya, karena sebenarnya memang sudah habis.
"Serius lo? Jangan gila dong!!!?" sahut Zac salah satu anak yang ada dikelas.
  Reido hanya mengangguk.
   Dea tertawa kecil, haha,.. makanya,,, salah sendiri beli makanan yang aneh aneh,,, haha... pikir Dea.
    "Heh katro,.... ngapain kamu ketawa ketawa??" cetus Diara.
"Ngh?? Gaapa kok...." jawab Dea sambil tertawa kecil.
 
    Lalu Reido melirik Dea. Kemudian tersenyum kecil, lalu meninggalkan ruang kelas, Dea yang menyadari hal tersebut langsung tersipu malu lalu menutup makanannya. Semua anak yang memakan hamburger tersebut langsung membaur keluar kelas, karena takut perut mereka bakal mules, dan akan mengantri panjang di kamar mandi.
    Bu silvi, penjaga kantin sekolah yang menjual hamburger basi tadi di interogasi oleh kepala sekolah, apakah ada unsur kesengajaan atau tidak. setelah lama di tanya berbagai pertanyaan, ternyata bu silvi memang tidak tau kalau beef di hamburger itu ternyata basi, jadi bu silvi boleh melanjutkan berjualan di kantin sekolah ini lagi.
    Ternyata benar apa dugaan murid-murid SMP De Loyer, kalau setelah memakan hamburger tersebut mereka akan mengantri panjang di kamar mandi sekolah. Dea yang tidak memakan hamburger itu bergegas pergi menuju perpustakaan, memang enak ya kalau makan masakan orang tua itu, aman, terjamin, enak lagi dan juga khas Indonesia.
Di perpustakaan, Dea mencari buku di sab perpustakaan ke 4, yaitu di tempat buku iptek. sedangkan disab yang ketiga Reido sedang asik mencari buku tentang iptek, tapi dia salah masuk sab karena udah terlanjur, akhirnya dia tetap mencari buku di sab tersebut.
    Di tengah keasikannya, Dea dan Reido ternyata berusaha mengambil buku yang sama.
 "Ihhh..... susah banget sih?" gerutu Dea.
   "Ah, ini apa-apaan sih? sulit amat diambilnya?? duh, sapa sih yang narik?" gerutu Reido seraya menengok ke rak buku yang sedang dia incar, ternyata disana ada Dea.
   "Dea??? lo ngapain di situ??" tanya Reido.
"Ngh??? eh Reido, kamu ngapain?? aku mau ngambil buku ini tapi sulit banget sih diambilnya??" jawab Dea seraya melihat Reido yang sedang membungkuk melihat rak buku.
    Reido tersenyum lalu melepaskan buku yang dipegangnya berjalan menghampiri Dea. Reido memang cowok yang kece di SMP De Loyer ini. tapi dia enggak sombong, dia biasa aja. semua anak dia anggap teman. Tapi kecuali teman yang katro. Entah kenapa, karena dia habis ngolok-ngolok Dea, dia jadi makin penasaran sama anak itu. Jadi ingin tau apa yang sebenarnya ada dalam diri Dea. Dia heran, kenapa dia nggak malu dengan teman-temannya yang semuanya memakai pakaian limited dan khas negeri barat. Dia pede banget pakai baju batik dan makan-makanan khas indonesia yang menurutnya lezat. Walaupun baru pertama dan baru sehari ketemu.
   "Hh.... kamu mau ngambil buku itu juga ternyata??? Um,,,, btw, kamu tadi makan apa??" tanya Reido yang sudah sampai di hadapan Dea.
   "Nghhhh,,,,,, iya. Tapi kalau kamu mau ngambil buku itu ambil aja. aku nyari buku lain aja." jawab Dea.
   Reido menggeleng, lalu bertanya lagi, "Kamu loh, pertanyaanku yang kamu tadi itu makan apa gak kamu jawab,,,,, Kacannnngggg...."
    "Oh, sorry sorry. aku tadi itu makan rendang." jawab Dea lagi.
"Ummm,,,,, sebenernya rendang itu memang enak sih, aku juga suka kok sebenernya. Tapi mamaku gak pernah masakin aku rendang mulai aku kelas 7 dulu. katanya aku kan sekolah di sekolah yang bertaraf internasional, jadi aku harus makan makanan yang bertaraf internasional juga. Kalo nggak gitu, katanya entar aku unlimitted. Sebenernya sih ya,,, songong banget sih itu. Masa lebih mentingin makanan orang barat daripada makanan negeri sendiri, kan gitu-gitu juga makanannya tetep enak." jelas Reido panjang lebar.
     "Yayaya..... gitu kamu kok mau aja sih?? eh, kamu tadi nggak makan hamburger??"
"Ya..... kalo aku nggak mau, aku harus makan apa coba?? batu? aku tadi nggak makan hamburger. soalnya aku nggak seberapa suka. kenapa masalah ya kalo aku nggak makan??" jawab Reido.
    “Nggak, nggak masalah kok.”
 Kupikir dia anaknya sombong, jutek, cuek, resek. Tapi ternyata, itu cuman karna paksaan orang tuanya dia jadi belagu begitu. Tapi padahal hatinya baik. Pikir Dea dalam hati sambil melirik Reido dan tersenyum kepada Reido.

Sepulang sekolah Dea duduk diruang makan tanpa mengganti baju sekolah, dan dia hanya melepas sepatunya. “Bu, hari ini menunya apa?” tanya Dea kepada ibunya yang sedang menyiapkan makanan.
            “Ini, ibu masak daging krengsengan. Kamu suka kan?” tanya ibu kepada Dea.
     Dea mengangguk pasti.
            Kemudian ia menyantap makanannya dengan riang gembira. Setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk ganti baju dan tidur siang. Sebelum dia tidur siang, dia menyalakan lagu di mp4 nya. Tapi koleksi lagunya itu lagu indonesia, setelah itu dia baru bisa tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya disekolah. Dea berjalan di lorong sekolah dengan riang menuju kelasnya, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang memanggilnya. “Dea!!!” panggil Reido dari belakang sambil menepuk punggung Dea.
            Dea menoleh kearah Reido, “Eh, Reid! Kamu ngapain? Nggak bareng sama temen-temen kamu yang LIMITED itu?” tanya Dea.
            Reido menggeleng. Tak terasa mereka berjalan, ternyata mereka sudah sampai di depan kelas, lalu mereka masuk kelas secara bersama-sama sambil ketawa-ketawa nggak jelas. Diara yang melihat mereka raut wajahnya menjadi muram. Ihhh..... apa-apaan sih mereka? Pacaran kok di sini. Huh.... udah Dea nya SKSD lagi. Hih... Pikir Diara dalam hati.
            Tiba-tiba, Celly berdiri di depan kelas ketika semua murid 8F sudah ada dikelas untuk mengumumkan suatu hal yang penting. “Hey, Guys!!! Dengerin gue ya!!” Sahut Celly.
            Semua anak menoleh kearahnya, Dea dan Reido pun menghentikan tertawanya. “Tomorrow, i will celebrate my fifteenth birthday at my house. This event will celebrate at 4 pm. I hope all of you can attend in my birthday party. Thanks. Satu lagi. Kalian harus pake baju yang LIMITED ya!” Ujar Celly.
“Oke, Cell” sahut murid-murid yang ada di kelas.
Bel istirahat berbunyi nyaring, semua murid berhamburan keluar kelas untuk pergi ke kantin sekolah. Kecuali Dea dan Reido. Reido? Percayakah kamu? Dia ngapain di kelas? Biasanya aja dia ke kantin, tapi sekarang malah menetap di kelas.
            “De, kamu sangu apa?” tanya Reido.
“Aku? Ini nih, aku sangu nasi uduk.” Jawab Dea.
   “Nasi Uduk?”
“Kenapa?”
   “Nggak, nggak apa. Kok suka sih?”
Dea hanya tersenyum.
   “De, kamu besok dateng nggak ke acara ultah Celly?” tanya Reido.
“Iyalah, masa diundang nggak dateng?” jawab Dea.
            Reido mengangguk-angguk, lalu dia bergegas keluar kelas. Pergi ke kantin. *eh? Katanya mau menetap di kelas? Tapi kok malah keluar?. Sambil berjalan ia berpikir sesuatu. Dia dateng tapi nggak pake baju limited gimana jadinya ya? udahlah, lebih baik kan pake baju khas indonesia yang limited, dari pada pake baju orang barat yang limited di Indonesia tapi nggak limited di negeri barat. Sama aja nggak limited namanya.

            Diacara ulang tahun Celly yang meriah, semua teman sekolah Celly dan juga teman-teman rumahnya memakai pakaian yang limited ala negeri barat. Sedangkan Dea hanya mengenakan dress batik dan sepatu kats khas Bali. Semua orang yang ada di pesta ulang tahun Celly melihatnya dengan sinis, walaupun begitu, Dea tetap berjalan dengan glamour. “Idih.... apaan sih tuh anak. Udah pakaiannya ndeso banget. Sekarang jalannya udah kayak orang kece dengan baju limited kayak gitu?” cetus Selvi teman Diara.
   “RT” sahut Diara dengan nada keras hingga terdengar oleh Dea.
            Dea menoleh kearah Diara, lalu bertanya, “RT? Disini nggak ada bu RT.”
Raut wajah Diara menjadi kesal karena lelucon yang di buat Dea.
            Tiba-tiba pandangan para tamu Celly tersorot ke arah Reido yang mengenakan baju super limited edition dengan gayanya yang khas, kece dan mempesona. Tapi semua pandangan itu tidak di hiraukan oleh Reido, karena dia tertuju hanya pada satu anak cewek saja, yaitu Dea. Yang diam-diam menjadi sahabat mungilnya. “De!” panggil Reido.
  “Oh, Hai kakak Kece!” jawab Dea.
            Reido berlari kearah Dea, sambil menyenggolnya. “Ha? Kamu ini ada-ada aja. Kece dari mana coba?” tanya Reido.
   “Tuh, buktinya mereka ngeliatin kamu sampe segitunya.”
            Karena Reido berlari kearah Dea. Semua pandangan menjadi berpaling kearah lain. Acara pertama yang akan diadakan oleh Celly adalah acara tiup lilin, setelah itu potong kue, dan yang terakhir, SPEKTA EVENT / PUNCAK ACARA.
            Semua tamu yang hadir bersorak “Happy birthday to you, Happy birthday to you, Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday to you” kemudian dilanjutkan dengan, “Tiup lilinnya, Tiup lilinnya, Tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga.... sekarang juga.” Setelah itu barulah Celly meniup lilin angka 15 nya itu dengan seuntai senyuman yang manis dan lebar. Kemudian yang lain melanjutkan, “Potong kuenya, Potong kuenya, Potong kuenya sekarang juga... sekarang ju....ga.... sekarang ju.... ga.....” setelah mereka menyanyikan lagu potong kue tersebut, Celly langsung memotong kuenya dan membagikannya kepada para tamu yang ada.
            Dan berada pada akhir penghujung acara, yaitu SPEKTA EVENT. Dimana Celly akan memberikan kejutan kepada para tamu yang hadir. “Dea...... bisakah kamu maju ke depan sini?” panggil Celly secara tiba-tiba.
   “Ha?? Aku??” tanya Dea kaget.
            Celly tersenyum-senyum aneh, sinis, tapi juga manis. Reido yang sebelumnya sedang berdiri dengan Dea di dekat taman rumah Celly terdiam beku seperti patung. Hh.... sebentar lagi kamu bakalan malu didepan semua anak, liat aja... cewek katro.... pikir Celly.
            “Hai, Cell! Kenapa kamu manggil aku?” tanya Dea dengan polosnya.
“Oh, nggak apa kok!” jawab Celly singkat.
            Kemudian Celly memulai pembicaraan didepan semua tamu yang ada. “Oke, teman-teman! Kalian tau kenapa? Pasti kalian semua tau tentang Dea si katro dan si sok gaul ini kan? Ya,,, menurut kalian gimana? Dia kan kalau pake baju tuh selalu dress yang motif nya batik. Iuh banget nggak sih?? Aku sih ogah-ogahan, masa di jaman yang super maju ini masih ada aja orang yang make baju BATIK, dan semuanya serba batik,,, ketinggalan jaman lah yau!!” Ejek Celly.
            Raut wajah Dea terlihat sangat kesal. “Cell, kalo kamu cuman mau ngejek aku disini, gak usah nyuruh aku untuk maju ke sini!!!!! Kamu itu JAHAT!! Aku punya salah apa ke kamu?? HAA?? HAA??” sentak Dea.
  “Hah?? Kamu marah?? Aduh aduh,, ternyata cewek katro bisa marah juga ya?? baru tau. Hahaha....” Tambah Celly.
            Semua anak yang ada di acara pesta ulang tahun Celly menertawakan Dea, kecuali Reido. Dea menjadi super kesal tercampur malu. Tapi buat apa malu? Lagian inikan Indonesia, bukan Amerika. Ditengah kebengongan Dea dan ketertawaan Celly, tiba-tiba Reido mengahmpiri mereka, sambil berteriak, “Hei, KALIAN SEMUA!!! Kau tau kenapa? Memang, Dea itu katro, ndeso, dan apalah kata kalian! Tapi kalian nggak nyadar tentang satu hal, makna dari baju atau style apa yang dia kenakan. Dea memang suka mengenakan pakaian batik, style batik, dan semua yang berbau INDONESIA. Itu karena, dia ada di Indonesia. INI INDONESIA, BROO!! INDONESIA!! APA KALIAN NGGAK MALU DI NEGERI SENDIRI KALIAN MALAH PAKE BAJU DAN BARANG-BARANG NEGERI ORANG?? Apa kata turis luar negri coba?? Masa kalian pake baju negara mereka? Hh... NGGAK LUCU! Makan, makanan mereka, bergaya seperti mereka. Nanti kalian malah dikira NGGAK KREATIF. Kita ini orang INDONESIA! Kalau nggak mau pake produk kita, APA KATA DUNIA HA?? DUNIA AKAN BILANG APA KALAU KITA NGGAK PAKE PRODUK NEGERI KITA? That’s makes your country being SHY, bro!! Being SHY! Shy! SHY!” Reido mengambil nafas lalu melanjutkan, “Dea, memakai pakaian BATIK, berarti dia tidak MEMALUKAN negerinya dan juga tidak memalukan dirinya. Dia fine fine aja, walaupun semua temannya menggunakan pakaian yang berbeda dengannya. Apa kalian nggak malu sama Dea? Kalian udah ngejek dia katro, ndeso, dan yang lain-lain. Tapi dibalik semua itu, sebenernya kalian iri kan? Dan kalian seharusnya nyadar! Sebenernya siapa yang ndeso? KALIAN ATAU DEA? Jawabannya mudah, yaitu KALIAN!! Masa orang cinta negaranya nggak boleh? Cinta negaranya sendiri itu lebih baik daripada cinta negara orang lain!! Ngerti nggak?? Kuharap kalian mengerti......”
            Reido bergegas kembali ketempatnya untuk mengambil tasnya lalu bergegas pergi dari rumah Celly. “Eh, eh! KAKAK KECE!! TUNGGU! KAMU MAU KEMANA??” sahut Celly.
            Reido menyebrang jalan lalu mencegah taksi. Kemudian pulang. Dea melongo sendiri melihat kejadian itu, bagaimana bisa Reido bicara seperti itu. Sedangkan dari kejauhan Diara sedang melamun melihat lantai, karena dia masih nggak percaya kalau Reido bakalan belain Dea didepan semua teman sekolah dan rumah Celly. Semua anak pun berpikir keras. Apakah yang dikatakan Reido itu benar? Semua terjadi begitu saja. Aneh rasanya. Pesta ulang tahun Celly yang meriah tiba-tiba berubah menjadi pesta ulang tahun yang kacaunya nggak nguati.
            Diperjalanan pulang, Reido melamun memikirkan soal kejadian yang tadi. Dia merasa bersalah karena omongannya didepan semua teman Celly. Tapi that’s okay. Barangkali aja mereka semua akan menyadari apa yang diomongin sama dia tadi.

Keesokan harinya di sekolah. Seperti biasa, Dea datang dengan riang gembira, tapi hari ini dia heran sekali. Semua murid SMP De Loyer mengenakan pakaian batik semua. Ha? Siapa kira mereka bakalan mau pakai pakaian itu. Kan itu ndeso dan katro. Itu semua membuat Dea menjadi senyum-senyum sendiri. Aneh tapi senang. Akhirnya mereka semua mau menggunakan pakaian yang katanya, “NDESO DAN KATRO” haha..... aneh tapi nyata. Setelah menelan omongan Reido mereka semua menjadi sadar. Dea berjalan menuju lapangan basket sekolah. “Wah.....bagus banget.......” gumam Dea sambil melihat spanduk yang ada di lapangan basket yang bertuliskan “MAAFKAN KITA YA, DEA!! KITA EMANG NGGAK PERNAH TAU APA ARTI MENCINTAI PRODUK DALAM NEGERI, TAPI KARENA KAMU, KITA JADI NGERTI. TERIMA KASIH DEA!!”
            “Hhaha.... akhirnya mereka semua menyadari kesalahannya, itu berkat aku loh. Kamu harus berterima kasih sama aku.” Sahut Reido secara tiba-tiba yang ternyata ada di belakang Dea. Dea menoleh kearah Reido sambil tersenyum di ikuti dengan tertawa. “Oke, fine! MAKASIH REIDO!” ujar Dea.
            Tiba-tiba ratusan balon mulai berterbangan dari arah halaman sekolah. Kemudian terdengar suara, “TERIMA KASIH DEA!!!!!” lalu Dea mencari suara itu. Reido yang sudah tau rencana itu tetap tersenyum. Kemudian seluruh warga sekolah datang menghampiri Dea. Teman satu kelas Dea memeluk Dea. “De, maafin aku ya! selama ini aku emang salah. Maaf banget!!” ujar Diara.
            Akhirnya semua teman Dea menjadi baik dengan Dea. Dan setiap hari mereka menggunakan baju Batik.


~TAMAT~

No comments:

Post a Comment