Thursday, November 29, 2012

berkorban demi seorang teman yang sakit


Suatu hari di kota Malang hiduplah seorang anak yang kaya raya, tapi sombong, dan suka pamer. Namanya Devon, yang membuatnya menjadi sombong adalah karena dia Ganteng, Kece, dan Kaya.
Devon memasuki ruang kelasnya bersama Reza. Hari ini diawali dengan pelajaran Bu Gea. Yaitu pelajaran bahasa Indonesia. “Oke, hari ini ibu punya tugas khusus untuk kalian semua, yaitu survey tentang penduduk di Indonesia! Ibu akan bagi kelompoknya untuk kalian.” Ujar bu Gea.
“Yah, kok dipilihin seh? Harusnya nggak usah” gumam Devon.
            “Haha, iya! Bener tuh!” sahut Reza.
“Ngikut mulu!”
            Bu Gea membacakan bagian kelompoknya. kelompok Fun3 terdiri dari: Devon, Reza, Kayla, Hasby, Shaza. “Ha? Sama Hasby? Halah.... sama anak aneh itu. Ish!!!” cetus Devon pelan.
            Bel istirahat telah dibunyikan. Hari ini Devon nggak istirahat, karena ada rapat kerja kelompok. Ketuanya Hasby. Hasby, anak aneh, itu hanya kata Devon. Karena, Devon iri sama Hasby.
            “By, gimana ini? Kita survey kemana?” tanya Kayla.
“Um....... gini aja. Gimana kalau kita survey ke daerah gunung bromo?” jawab Hasby.
            “Um.... iya deh! Gimana guys?”
            Semuanya mengangguk setuju. Walaupun terpaksa, Devon tetap mengangguk setuju karena dia nggak mau repot. Setelah rapat ini mereka semua pergi berhamburan ke kantin. Karena mereka sudah lama menahan lapar. Tak lama kemudian bel berbunyi. Di kelas B, kelasnya Devon. Terdengar berisik sekali seperti pasar. Namanya juga kelas yang lagi nggak ada gurunya.
            Pukul 13.00 semua murid dipersilahkan untuk pulang. Devon dan Reza nggak pulang soalnya mereka lagi lesu di pojok lapangan basket melihat Hasby yang sedang bermain basket bersama teman-teman satu timnya. Bermain terus hingga mereka mengeluarkan keringat yang bercucuran. Di tengah mereka istirahat sejenak, Devon menghampiri mereka untuk menantang bermain basket. Tapi 1 lawan 1. Mereka semua kaget. Nggak seperti biasanya Devon menantang mereka untuk bermain basket 1 lawan 1 lagi. Okelah mereka terima tantangan Devon.
            “Oke, Fine! Kita suit ya! yang menang berarti megang bola duluan!” ujar Hasby yang kebetulan kapten tim basket sekolah.
Kemudian mereka melakukan suit dan ternyata yang menang adalah Devon. Pertandingan basket dimulai dengan bola pertama dipegang oleh Devon. Devon melakukan dreebel menuju ring lalu melempar bola dengan three-point tapi nggak masuk. Bola di ambil alih oleh Hasby. Hasby bergerak menuju ring lalu melakukan three-point dan akhirnya MASUKKK!!! Yeay! Hasby melirik sinis kearah Devon. Devon terlihat kesal dan marah-marah.
            “Ayo DEVOONNNN!!!” seru Reza.
 “Resek lo....” cetus Devon dengan suara yang keras.
            Setelah hampir 30 menit bermain, Devon merasa sangat capek sekali, denyut jantung Devon serasa tak beraturan dan Devon baru ingat kalo ternyata dia punya penyakit Jantung yang berat. Devon berlari mengambil air minum dan tas sekolahnya kemudian bergegas pergi meninggalkan lapangan. Dengan pontang-panting Devon terus berjalan dan berlari hingga sampai di halaman sekolah. Dan setelah itu dia mencari obatnya. Tiba-tiba dia terjatuh. Jantungnya terasa sakit sekali. Tapi akhirnya dia menemukan obat untuk penyakitnya, lalu meminumnya. Dan rasa nyeri di jantungnya perlahan menghilang. Lalu dia pulang jalan kaki.
Keesokan harinya Devon datang ke sekolah dengan muka lesu. Berjalan menuju ruang kelasnya. Reza. Ketika ia tiba di kelasnya, tidak ada satupun anak yang menyapanya. Reza, yang sebelumnya duduk di sebelah Devon, sekarang pindah duduk di sebelah Hasby yang awalnya duduk sendirian. Alone! Alone! And alone!
            Saat istirahat tiba, Reza pergi dengan Hasby dkk. Tidak sama Devon lagi yang biasanya menemani istrirahat Reza. Kali ini Devon benar-benar kesepian. Dia jalan menyusuri setiap lorong sekolah. Tidak ada satupun teman sekolahnya yang menyapanya dengan ramah seperti dulu. Tiba-tiba Reza lewat bersama Hasby dkk. “Rez!” panggil Devon.
            Tidak ada balasan sama sekali. Rasanya sapaan Devon menjadi angin yang berlalu begitu saja. Sudahlah, lanjutkan jalan saja. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak Devon, “Von! Kamu kemana aja seh? Ntar pulang sekolah kita ngadain survey di gunung bromo selama 2 hari. Sampe besok!” sahut Kayla.
            “Oke, Kay!” jawab Devon singkat. Akhirnya, ada juga yang mau menyapanya. J .
            Sepulang sekolah, Devon pulang dulu mengambil pakaian. Lalu ia berangkat ke sekolah, tempat kumpul. Dengan naik sepeda, “Ma, berangkat!”
            Disekolah Hasby, Reza, Kayla, dan Shaza sudah menunggu sejak lama. Dan Devon baru saja datang dengan santai. “Eh, lu kalau ada janji datang yang tepat waktu dong. Jangan molor!! Lama yang nungguin nih.” Ujar Hasby.
            “Terus? Masalah buat lo? Enggak kan?” jawab Devon.
“Aishhhh.... sudah-sudah! Kalian ini banyak omong. Ayo cepet, ntar kita telat nih,!” sahut Shaza di tengah keributan Hasby dan Devon.
            Mereka bersepeda menuju gunung Bromo dengan riangnya sambil bernyanyi-nyanyi. Tapi Devon tidak, karena dia tau. Denyut jantungnya mulai tak beraturan dan terasa nyeri. Walaupun tinggal sedikit lagi mereka akan sampai ditempat tujuan mereka. Devon tertinggal paling belakang sendiri. Sedikit demi sedikit, rasa nyeri itu bertambah semakin kuat. Tapi, tak lama kemudian mereka semua sampai di desa yang mereka tuju, desa yang berdekatan dengan gunung Bromo. Devon berhenti dan langsung terjatuh ke tanah. “DEVONN!!” teriak Shaza kaget.
 “Alah..... paling-paling juga dia cuman pura-pura.” Ujar Reza.
            “Rez, dia temen kita juga. Kamu nggak boleh gitu lah Rez!” sahut Hasby.
“Hei, kalian yang bener aja! Denyut nadi dan jantungnya lemah tau!!” seru Shaza dan Kayla.
            “Hah? Serius kalian? Cepet bawa ke rumah sakit atau puskesmas terdekat di daerah sini” sahut Hasby lagi.
            Hasby berlari kearah desa. Bertanya-tanya dimana puskesmas atau rumah sakit terdekat. Lalu Devon di bawa kesana. Untuk diperiksa dan dirawat.
Setelah diperiksa oleh dokter yang ada di puskesmas. Dokter tersebut keluar untuk bicara dengan teman-teman Devon. “Kalian tau, penyakit apa yang di miliki Devon?” tanya Dokter tersebut.
            Semuanya menggeleng. Dokter Rianti, dokter yang memeriksa Devon barusan. Menghela nafas dalam-dalam. Lalu menjawab, “Devon memiliki penyakit Jantung.”
 “APAAA???” semuanya berteriak kaget kearah dokter Rianti.
            “Nggak, gak mungkin dok!” ujar Shaza.
Keesokan harinya, Kelompok Fun3 melakukan penelitian di setiap rumah yang ada di desa tersebut. Ternyata penerangan di desa tersebut masih sangat minim. Padahal kebutuhan listrik di desa ini itu sangat banyak, bagaimana cara anak-anak mereka belajar? Lalu mereka melakukan wawancara dengan kepala desa. Sedangkan yang lain menuliskan hasil wawancara tersebut di atas buku. Setelah melakukan wawancara dengan pak kepala desa, mereka semua beres-beres untuk segera pulang dari desa di gunung Bromo ini dengan naik sepeda. Diam-diam Hasby menulis surat untuk mamanya, Dia sendiri tidak tau kenapa dia menulis surat itu. Isi suratnya Hasby ingin jika dia sudah tiada, jantungnya diberikan kepada Devon, yang kebetulan mempunyai penyakit jantung.
            Ternyata setelah pulang dari gunung Bromo. Benar dugaan Hasby, dia mendapat kecelakaan dan akhirnya meninggal. Dan kebetulan juga disaat yang sama, Devon mendapatkan pendonor jantung yang tidak mau diberitahukan kepada Devon identitas pendonor. Seketika itu Devon benar-benar senang, akhirnya dia terbebas dengan penyakit itu. Tapi dia masih heran siapa pendonor jantung itu.
            Keesokan harinya disekolah, semua murid serta guru terlihat gusar dan sedih. Dilapangan basket sekolah tertera tulisan, “Selamat jalan kapten basket!! Kita berharap kamu akan selalu tersenyum untuk kita. J”.  Hah? Maksudnya itu semua apa? Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang memanggil Devon. Dan ternyata itu mamanya Hasby yang kemudian menceritakan semua kejadiannya kepada Devon. Devon setengah tidak percaya. “Tante, tante pasti bohong kan?” ujar Devon dengan geleng-geleng. “Tante pasti BOHONG!”. “Lebih baik aku sakit daripada harus kehilangan teman yang selama ini baik sama aku.”
            “Tapi kamu juga senang kan, bebas dari penyakitnya. Anggap saja, Hasby akan selalu ada dalam diri kamu, karena kamu menggunakan jantungnya. Tante nggak apa kok”
            Kemudian semua murid dan guru sekolah Devon tersenyum dan memeluknya erat-erat. “Kita akan mengingat Hasby jika kita melihat kamu Devon. Jadi janganlah kamu pergi.” Ujar bu Gea.
            Akhirnya, Devon mengerti, bagaimana rasanya memiliki teman dan bagaimana rasanya jadi baik hati. Devon senang, karena walaupun dia jahat dan sombong dengan Hasby, tapi Hasby masih tetap care sama dia.

No comments:

Post a Comment