Suatu hari di kota Malang hiduplah
seorang anak yang kaya raya, tapi sombong, dan suka pamer. Namanya Devon, yang
membuatnya menjadi sombong adalah karena dia Ganteng, Kece, dan Kaya.
Devon memasuki ruang kelasnya bersama
Reza. Hari ini diawali dengan pelajaran Bu Gea. Yaitu pelajaran bahasa
Indonesia. “Oke, hari ini ibu punya tugas khusus untuk kalian semua, yaitu
survey tentang penduduk di Indonesia! Ibu akan bagi kelompoknya untuk kalian.”
Ujar bu Gea.
“Yah,
kok dipilihin seh? Harusnya nggak usah” gumam Devon.
“Haha, iya! Bener tuh!” sahut Reza.
“Ngikut
mulu!”
Bu Gea membacakan bagian kelompoknya.
kelompok Fun3 terdiri dari: Devon, Reza, Kayla, Hasby, Shaza. “Ha? Sama Hasby?
Halah.... sama anak aneh itu. Ish!!!” cetus Devon pelan.
Bel istirahat telah dibunyikan. Hari
ini Devon nggak istirahat, karena ada rapat kerja kelompok. Ketuanya Hasby.
Hasby, anak aneh, itu hanya kata Devon. Karena, Devon iri sama Hasby.
“By, gimana ini? Kita survey
kemana?” tanya Kayla.
“Um.......
gini aja. Gimana kalau kita survey ke daerah gunung bromo?” jawab Hasby.
“Um.... iya deh! Gimana guys?”
Semuanya mengangguk setuju. Walaupun
terpaksa, Devon tetap mengangguk setuju karena dia nggak mau repot. Setelah
rapat ini mereka semua pergi berhamburan ke kantin. Karena mereka sudah lama
menahan lapar. Tak lama kemudian bel berbunyi. Di kelas B, kelasnya Devon.
Terdengar berisik sekali seperti pasar. Namanya juga kelas yang lagi nggak ada
gurunya.
Pukul 13.00 semua murid
dipersilahkan untuk pulang. Devon dan Reza nggak pulang soalnya mereka lagi
lesu di pojok lapangan basket melihat Hasby yang sedang bermain basket bersama
teman-teman satu timnya. Bermain terus hingga mereka mengeluarkan keringat yang
bercucuran. Di tengah mereka istirahat sejenak, Devon menghampiri mereka untuk
menantang bermain basket. Tapi 1 lawan 1. Mereka semua kaget. Nggak seperti
biasanya Devon menantang mereka untuk bermain basket 1 lawan 1 lagi. Okelah
mereka terima tantangan Devon.
“Oke, Fine! Kita suit ya! yang
menang berarti megang bola duluan!” ujar Hasby yang kebetulan kapten tim basket
sekolah.
Kemudian mereka melakukan suit dan
ternyata yang menang adalah Devon. Pertandingan basket dimulai dengan bola
pertama dipegang oleh Devon. Devon melakukan dreebel menuju ring lalu melempar
bola dengan three-point tapi nggak masuk. Bola di ambil alih oleh Hasby. Hasby
bergerak menuju ring lalu melakukan three-point dan akhirnya MASUKKK!!! Yeay!
Hasby melirik sinis kearah Devon. Devon terlihat kesal dan marah-marah.
“Ayo DEVOONNNN!!!” seru Reza.
“Resek lo....” cetus Devon dengan suara yang
keras.
Setelah hampir 30 menit bermain, Devon
merasa sangat capek sekali, denyut jantung Devon serasa tak beraturan dan Devon
baru ingat kalo ternyata dia punya penyakit Jantung yang berat. Devon berlari
mengambil air minum dan tas sekolahnya kemudian bergegas pergi meninggalkan
lapangan. Dengan pontang-panting Devon terus berjalan dan berlari hingga sampai
di halaman sekolah. Dan setelah itu dia mencari obatnya. Tiba-tiba dia
terjatuh. Jantungnya terasa sakit sekali. Tapi akhirnya dia menemukan obat
untuk penyakitnya, lalu meminumnya. Dan rasa nyeri di jantungnya perlahan
menghilang. Lalu dia pulang jalan kaki.
Keesokan harinya Devon datang ke sekolah
dengan muka lesu. Berjalan menuju ruang kelasnya. Reza. Ketika ia tiba di
kelasnya, tidak ada satupun anak yang menyapanya. Reza, yang sebelumnya duduk
di sebelah Devon, sekarang pindah duduk di sebelah Hasby yang awalnya duduk sendirian.
Alone! Alone! And alone!
Saat istirahat tiba, Reza pergi
dengan Hasby dkk. Tidak sama Devon lagi yang biasanya menemani istrirahat Reza.
Kali ini Devon benar-benar kesepian. Dia jalan menyusuri setiap lorong sekolah.
Tidak ada satupun teman sekolahnya yang menyapanya dengan ramah seperti dulu.
Tiba-tiba Reza lewat bersama Hasby dkk. “Rez!” panggil Devon.
Tidak ada balasan sama sekali.
Rasanya sapaan Devon menjadi angin yang berlalu begitu saja. Sudahlah,
lanjutkan jalan saja. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak Devon,
“Von! Kamu kemana aja seh? Ntar pulang sekolah kita ngadain survey di gunung bromo
selama 2 hari. Sampe besok!” sahut Kayla.
“Oke, Kay!” jawab Devon singkat.
Akhirnya, ada juga yang mau menyapanya. J .
Sepulang sekolah, Devon pulang dulu
mengambil pakaian. Lalu ia berangkat ke sekolah, tempat kumpul. Dengan naik
sepeda, “Ma, berangkat!”
Disekolah Hasby, Reza, Kayla, dan
Shaza sudah menunggu sejak lama. Dan Devon baru saja datang dengan santai. “Eh,
lu kalau ada janji datang yang tepat waktu dong. Jangan molor!! Lama yang
nungguin nih.” Ujar Hasby.
“Terus? Masalah buat lo? Enggak
kan?” jawab Devon.
“Aishhhh....
sudah-sudah! Kalian ini banyak omong. Ayo cepet, ntar kita telat nih,!” sahut
Shaza di tengah keributan Hasby dan Devon.
Mereka bersepeda menuju gunung Bromo
dengan riangnya sambil bernyanyi-nyanyi. Tapi Devon tidak, karena dia tau.
Denyut jantungnya mulai tak beraturan dan terasa nyeri. Walaupun tinggal
sedikit lagi mereka akan sampai ditempat tujuan mereka. Devon tertinggal paling
belakang sendiri. Sedikit demi sedikit, rasa nyeri itu bertambah semakin kuat.
Tapi, tak lama kemudian mereka semua sampai di desa yang mereka tuju, desa yang
berdekatan dengan gunung Bromo. Devon berhenti dan langsung terjatuh ke tanah.
“DEVONN!!” teriak Shaza kaget.
“Alah..... paling-paling juga dia cuman
pura-pura.” Ujar Reza.
“Rez, dia temen kita juga. Kamu
nggak boleh gitu lah Rez!” sahut Hasby.
“Hei,
kalian yang bener aja! Denyut nadi dan jantungnya lemah tau!!” seru Shaza dan
Kayla.
“Hah? Serius kalian? Cepet bawa ke
rumah sakit atau puskesmas terdekat di daerah sini” sahut Hasby lagi.
Hasby berlari kearah desa.
Bertanya-tanya dimana puskesmas atau rumah sakit terdekat. Lalu Devon di bawa
kesana. Untuk diperiksa dan dirawat.
Setelah diperiksa oleh dokter yang ada
di puskesmas. Dokter tersebut keluar untuk bicara dengan teman-teman Devon.
“Kalian tau, penyakit apa yang di miliki Devon?” tanya Dokter tersebut.
Semuanya menggeleng. Dokter Rianti,
dokter yang memeriksa Devon barusan. Menghela nafas dalam-dalam. Lalu menjawab,
“Devon memiliki penyakit Jantung.”
“APAAA???”
semuanya berteriak kaget kearah dokter Rianti.
“Nggak, gak mungkin dok!” ujar
Shaza.
Keesokan harinya, Kelompok Fun3
melakukan penelitian di setiap rumah yang ada di desa tersebut. Ternyata
penerangan di desa tersebut masih sangat minim. Padahal kebutuhan listrik di
desa ini itu sangat banyak, bagaimana cara anak-anak mereka belajar? Lalu
mereka melakukan wawancara dengan kepala desa. Sedangkan yang lain menuliskan
hasil wawancara tersebut di atas buku. Setelah melakukan wawancara dengan pak
kepala desa, mereka semua beres-beres untuk segera pulang dari desa di gunung
Bromo ini dengan naik sepeda. Diam-diam Hasby menulis surat untuk mamanya, Dia
sendiri tidak tau kenapa dia menulis surat itu. Isi suratnya Hasby ingin jika
dia sudah tiada, jantungnya diberikan kepada Devon, yang kebetulan mempunyai
penyakit jantung.
Ternyata setelah pulang dari gunung
Bromo. Benar dugaan Hasby, dia mendapat kecelakaan dan akhirnya meninggal. Dan
kebetulan juga disaat yang sama, Devon mendapatkan pendonor jantung yang tidak
mau diberitahukan kepada Devon identitas pendonor. Seketika itu Devon
benar-benar senang, akhirnya dia terbebas dengan penyakit itu. Tapi dia masih
heran siapa pendonor jantung itu.
Keesokan harinya disekolah, semua
murid serta guru terlihat gusar dan sedih. Dilapangan basket sekolah tertera
tulisan, “Selamat jalan kapten basket!! Kita berharap kamu akan selalu
tersenyum untuk kita. J”.
Hah? Maksudnya itu semua apa? Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara
yang memanggil Devon. Dan ternyata itu mamanya Hasby yang kemudian menceritakan
semua kejadiannya kepada Devon. Devon setengah tidak percaya. “Tante, tante
pasti bohong kan?” ujar Devon dengan geleng-geleng. “Tante pasti BOHONG!”.
“Lebih baik aku sakit daripada harus kehilangan teman yang selama ini baik sama
aku.”
“Tapi kamu juga senang kan, bebas
dari penyakitnya. Anggap saja, Hasby akan selalu ada dalam diri kamu, karena
kamu menggunakan jantungnya. Tante nggak apa kok”
Kemudian semua murid dan guru
sekolah Devon tersenyum dan memeluknya erat-erat. “Kita akan mengingat Hasby
jika kita melihat kamu Devon. Jadi janganlah kamu pergi.” Ujar bu Gea.
Akhirnya, Devon mengerti, bagaimana
rasanya memiliki teman dan bagaimana rasanya jadi baik hati. Devon senang,
karena walaupun dia jahat dan sombong dengan Hasby, tapi Hasby masih tetap care
sama dia.
No comments:
Post a Comment